Ide pokok : hanya hati yang paling peka dalam merasakan perasaan
Tema : seorang lelaki pencemburu yang berusaha mempertahankan kepercayaanya tuk kekasihnya
Judul :Mawar terakhir yang ku lihat
SINOPSIS
ASMARA (mahasiswi muda yang sangat cantik, lembut, penyabar). Ia mempunyai seorang kekasih bernama RAMA (pria tanggung, jujur dan terbuka). Mereka berdua telah berpacaran selama 2 tahun.
hari ini adalah aniversary Mara dan Rama yang ke 2tahun, pagi hari
ketika Mara sedang tertidur di kamarnya tiba2 handphonnya berdering, dan
ternyata Rama menelpon untuk mengucapkan happy anyversary dan mengajak
Mara untuk merayakannya malam ini. Tapi sayangnya Mara menolak karna ada
urusan kampus yang tidak bisa di tinggalkan, Rama dengan mudah mengerti
keadaan Mara, dan tidak jadi merayakannya..
secara
diam2 Rama merencanakan untuk membuat kejutan untuk Mara. Siang hari,
Rama datang ke kampus Mara sambil membawa sebatang mawar merah, namun
ketika masuk Rama mendapati Mara sedang asyik bercanda di tangga dengan
seorang laki2. Mulai timbul rasa curiga dan cemburu di hati Rama.
Rama pergi dan tak jadi memberikan bunga yang ia bawa, Rama masuk kamar
dengan membanting pintu dengan keras, ia duduk di tempat tidur, ia
pandangi mawar yang masih di genggamannya, karna kesal ia lempar mawar
itu ke meja. Tanpa berlama2 rama langsung menelphon Mara dan mengaku
bahwa ia cemburu karna tadi ia melihat Mara sedang mesra bercanda dngan
seorang laki2. Namun Mara hanya menjawab dengan santai bahwa laki2 itu
hanya teman kampus Mara. dengan rasa percaya dan tidak Rama menutup
telponnya, hari itu Rama terus dibayangi cemburu yang begitu menyiksa
jiwanya,
(Dicari) Naskah Curhat Move On
Penerbit Gradien
sumber: visual
“Move On itu, wahai pejalan, adalah perjalanan seribu mil tanpa peta dan bekal!” Nah, kira-kira begitulah kalimat puitis untuk mewakili suara hati para galauers dalam menempuh hidup pasca bye-bye dengan mantan. Agar tak sia-sia, kami hendak membuatkan kumpulan cerita (kumcer) “Curhat Move On” yang akan dibukukan. Melalui wadah ini, curhat Anda akan tersalurkan secara positif, mendatangkan kelegaan hati, menghasilkan karya nyata, dan syukur-syukur mendapat bonus si mantan membacanya. Makanya, ikutan yuk...
Syarat Peserta
Penerbit Gradien
sumber: visual
“Move On itu, wahai pejalan, adalah perjalanan seribu mil tanpa peta dan bekal!” Nah, kira-kira begitulah kalimat puitis untuk mewakili suara hati para galauers dalam menempuh hidup pasca bye-bye dengan mantan. Agar tak sia-sia, kami hendak membuatkan kumpulan cerita (kumcer) “Curhat Move On” yang akan dibukukan. Melalui wadah ini, curhat Anda akan tersalurkan secara positif, mendatangkan kelegaan hati, menghasilkan karya nyata, dan syukur-syukur mendapat bonus si mantan membacanya. Makanya, ikutan yuk...
Syarat Peserta
- Kumcer ini terbuka bagi siapa saja yang mau ikutan.
- Setiap peserta hanya diperbolehkan mengikutkan maksimal TIGA naskah terbaiknya.
- Tuliskan profil singkat penulis dalam format narasi di akhir cerita, dalam 8 kalimat.
- Naskah berkisah seputar penyebab kamu remuk-redam dan bergulat untuk Move On.
- Panjang cerita 3- 5 halaman Word dengan format A4, 1,5 spasi, Arial 11 pt.
- Meski harus dituturkan dengan hati perih, cerita tidak diizinkan ber-SARA dan ber-PORNO.
- Setiap naskah harus dilengkapi dengan Formulir dari sini.
- Naskah dikirim dalam bentuk lampiran file ke:
“My First Anniversary”
A story By: Ray Ankers Edan
Terlihat ada
sosok pria sedang duduk di bangku taman seorang diri. Ia menanti seorang wanita
yang telah menjadi kekasihnya setahun yang lalu. YA ! hari ini adalah tepat
First Anniversary pohon cinta yang mereka tanam di dalam hati mereka
masing-masing. Tampak riang sekali wajah Pria yang bernama Shugie itu. Dengan
menghirup bunga mawar yang ia genggam dan sesekali ia melihat jam tangannya. Ia
sudah menunggu sekitar sepuluh menit. Namun pujaan hatinya belum juga datang.
Ia memandangi taman sekitarnya. Senyuman Pria itu terbentang ketika ia melihat
sosok yang ia kenali dengan jelas. Wanita itu berjalan perlahan dengan senyum
yang terukir indah. Dialah wanita yang ia tunggu. Dengan Jilbab merah serta
balutan gaun warna putih bersih dengan jahitan bunga mawar di sebelah dada kiri
membuat wanita itu tampak anggun sekali. DEWI. Nama wanita yang telah menyirami
benih cinta di hati Shugie selama ini.
“Sudah lama
menunggu ya?” tanya wanita itu sambil duduk di sebalah Shugie.
Shugie tersenyum
manis. “Tidak ada kata lama untuk menunggumu.”
Wanita itu ikut
tersenyum indah. Jilbabnya sedikit bergoyang bersama hembusan angin yang
membuat beberapa ranting pohon menari. Mereka beradu tatap. Jelas terlihat
pancaran cinta di kedua mata mereka. “Masih ingatkah kamu tentang hari ini?”
Tanya Shugie di tengah kesunyian diantara mereka.
Wanita cantik
itu mengangguk perlahan. Dan senyumannya masih terukir dengan indah. Tatapan
masih menatap jauh kedalam mata Shugie. “Bunga mawar ini, sangatlah indah
apabila berada bersama orang yang indah juga.” Seru Shugie sambil menarik
tangan Dewi dan memberikan bunga itu kepadanya.
“Terima kasih.”
Serunya sambil menghirup harum dari kelopak mawar itu.
Shugie
memandangi wajah wanita yang sudah berhasil membuat bunga cinta yang ada di
dalam hatinya tumbuh lagi. “Sayang, ingatkah saat kita pertama kali bertemu dan
saling sapa?” Tanya Shugie sambil menoleh sedikit kearah Dewi.
By : Ray Ankers Edan
Ilona adalah seorang gadis cantik, anggun, dewasa, dan juga sangat murah senyum. Ia hidup di lingkungan yang penuh dengan kesederhanaan. Ia senang sekali duduk di sebuah bangku taman yang sudah usang, letaknya berada diantara dua pohon beringin yang sangat besar sekali. Ia sering menghabiskan waktunya disana. Karena disana ia bisa banyak melihat aktifitas-aktifitas manusia. Dari bayi, anak kecil, hingga seorang kakek tua yang selalu duduk diatas batu besar dekat kolam di dekat taman itu.
Suatu waktu ia bertemu dengan seorang pria tinggi, putih, dan juga berwibawa. Pria itu selalu membawa buku yang mirip dengan buku agenda. Bisa disebut itu buku diary. Pria yang di ketahui bernama Ray itu, sering sekali ikut bermain bersama seorang anak kecil yang bernama Gilang, didalam bak pasir. Sesekali ia duduk dibawah perosotan berwarna merah sambil menulis di buku yang selalu ia bawa itu. Sesekali ia memandang kesekitar. Tatapannya berhenti cukup lama kearah Ilona yang sedang menikmati lollipop di bangku usang itu. Tatapannya semakin tajam kearah Ilona, dan tak lama kemudian ia tersenyum. Namun Ilona tidak sadar paras cantiknya itu sedang dipandangi oleh Ray. Tak beberapa lama, Ilona beranjak pergi meninggalkan bangku usang itu. Ray berdiri dan berjalan menuju bangku usang itu. Di pandangi bangku itu, di telusuri hingga detail.
“Tak ada yang menarik…” Seru Ray, “…kenapa wanita yang cantik itu suka duduk disini?” ray yang penasaran mencoba untuk duduk di bangku itu.
Dan ia merasakan sejuk, tenang, dan sangat indah pemandangan saat ia mulai duduk di bangku usang itu. “Bangku yang Ajaib…” Serunya takjub.
JJJJ
Keesokan harinya di waktu yang sama, yaitu di sore hari.
Terlihat Ilona sudah duduk di bangku usang itu. Kali ini Ray mencoba untuk mendekati Ilona. Ia mencoba untuk berkenalan dengan wanita itu.
“Hai, bolehkah aku duduk disebelahmu?” Tanya Ray, yang sore itu berpenampilan Rapih.
KINI TELAH BERSEMI
karya ini di tujukan untuk : Dinny Restiara Putri
“Ray, gue perhatiin setelah loe di tinggal pergi sama Winda, loe jadi jarang banget deket sama cewek.” Seru Toy yang berbadan tinggi dan kurus itu.
“Sebenernya gue belum mau pacaran dulu sebelum gue nemuin cewek yang bisa bikin cinta di hati gue ini bersemi kembali.” Jawabnya singkat.
Ray memang sering menyendiri semenjak Winda pergi dari hatinya. Semenjak kepergian Winda, hidupnya Ray berputar arah. Yang tadinya dia selalu ceria dan juga gak tau malu kini menjadi sosok yang sering diem, murung, dan juga tidak bersemangat.
“WOOYY, lagi ape loe?” Seru Ubay yang kulitnya hitam manis.
“Ini Bay, ada cowok cengeng, gara-gara cinta ajah jadi berubah gini.” Seru Toy dengan nada yang mengejek.
“Yaelah Ray, inget Winda udah lama pergi, dia juga gak akan balik ke loe lagi, buat apa menanti sesuatu yang tak pasti.” Seru Ubay.
“Bener kata Ubay tuh, loe harus bangkit dari kesedihan loe.” Seru Dzhony yang kurus dan kocak itu.
“Dateng dari mana loe?” Tanya Ubay heran yang tiba-tiba ada Dzhony di sana.
“Tadi gue tiduran di belakang pohon.” Jawab Dzhony untuk menghindar.
“Emang loe tahu yang mana belakang pohon?” Tanya Toy dengan polos.
“Ya loe cari ajah yang pesing, kebanyakan orang kencing di belakang pohon kan?”
“Ngelantur loe semua.” Ray tiba-tiba bangkit dari pinggir danau itu dan segera berlalu dari teman-temannya.
Ketiga temannya langsung saling bertatap. Mereka bingung apa yang terjadi sama Ray semenjak di tinggal pergi Winda. Memang membingungkan untuk mengerti apa yang sedang di pikirkan Ray.
“Aneh si Ray.” Gerutu Ubay dan teman-temannya Cuma manggut-manggut saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)






- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact